PERKEMBANGAN INTELEKTUAL UMAT DI AWAL PENYEBARAN ISLAM

PERKEMBANGAN INTELEKTUAL UMAT
DI AWAL PENYEBARAN ISLAM
[Review Atas Tulisan W. Montgomery Watt
‘The Beginnings Of Islamic Culture’
dalam Buku."The Majesty That Was Islam;
The Islamic World 661 1100"]

A. Pendahuluan
Memotret perkembangan intelektual ummat Islam di masa penyebarannya, tidak bisa lepas dari sejarah yang melatarbelakanginya. Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW telah merubah bangsa Arab yang mulanya terbelakang dan diabaikan oleh bangsa bangsa lain menjadi bangsa yang maju. Dengan gerak cepat bangsa Arab mengembangkan dunia membina satu kebudayaan dan peradaban yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia hingga kini.
Kejayaan Islam menjadi bukti keberhasilan Islam dalam membawakan misinya untuk menata kehidupan yang real manusia di dalam setting sosial budaya Arab. Kebesaran hampir empat setengah abad benar-benar telah mengubah masyarakat Arab yang dikenal keras menjadi masyarakat yang berperadaban maju. Pada kurun waktu itu pulalah, sejarah mencatat peradaban Islam amat berjasa dalam mempersiapkan dasar dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Namun benarkah semua itu ? Apa kontribusi yang nyata intelektual ummat Islam ?
Tulisan karya W. Montgomery Watt (selanjutnya dibaca Watt) yang akan kita kaji ini merupakan salah satu sub bab dari bab 1 mengenai Periode Umayyah 611 750 yang merupakan bab pertama dari 5 bab yang tersedia dalam bukunya yang berjudul “The Majesty That Was Islam”. Tulisan yang dimaksud adalah ‘The Beginnings of Islamic Culture’. Dalam tulisan itu, Watt berangkat dari pernyataan H.A.R. Gibb (dalam Mohammedanism, bab I) bahwa sumbangan dasar bagi kebudayaan Islam adalah sumbangan intelek.tual. Watt menambahkan bahwa setelah datangnya Islam, media intelektual yang berupa bahasa dan sastra Arab tetap menjadi mainstream kemajuan budaya dan peradaban mereka. Perkembangan itu dilukiskan oleh Watt dengan pembahasan pembahasan masalah jurisprudensi, sejarah, dan tradisi (hadits). Selain memotret perkembangan budaya ummat Islam awal ini, Watt menampilkan beberapa ulama yang terkemuka semasa periode Umayyah. Dengan argumentasi lain, ia lantas memberikan pernyataan mengenai sumbangan intelektual orang orang Arab tersebut dengan menyatakan bahwa orang orang Arablah yang membentuk budaya intelektual yang baru. Di akhir tulisan, Watt memaparkan sikap-sikap Arab yang merupakan warisan lama yang masih terus berlanjut sehingga juga dalam puisi hanya ditemuan di atas nilai nilai tradisional Arab.
W. Montgomery Watt adalah seorang dosen filsafat selama empat tahun sebelum beralih ke bidang Studies of Islamic dan menulis desertasi Free Will and Predestination in Early Islam. Tahun 1947, setelah bertugas sebentar di Palestina sebagai staf Uskup Anglikan di jurisalem, dia menjabat kepala Departemen Arab dan Studi Islamik di Universitas Edinburgh sampai sekarang. Dia menulis sejumlah buku dan artikel, termasuk What is Islam (Preager), Muhammad at Mecca, Islam and Integration of Society, Islam Spain, The Influence of Islam on Medieval Europa, dan The Formative Period of Islamic Thought. Sebagai orientalis terkemuka dalam kajiannya tentang sejarah klasik Islam, ia bisa disejajarkan dengan W.C. Smith, H.A.R. Gibb, A.J Arberry, dan Philip K. Hitti.
Makalah ini mengkaji tulisan Montgomery Watt tersebut dilihat dari identifikasai masalah, sistematika pembahasan dan pendekatan yang termuat dalam pendahuluan ini, kemudian kerangka teori, pemaparan materi, analisa dan kesimpulan.
Pendekatan yang dipakai dalam kajian ini yaitu mencoba mengkritisi perjalanan sejarah perkembangan intelektual kaum muslim terutama dalam mempertanyakan lebih jauh apakah benar sumbangan bagi kebudayaan Islam adalah keintelektualannya seperti halnya yang dikatakan Gibb ?

B. Kerangka Teori
Kajian ini didasarkan atas teori bahwa munculnya Islam tidak saja memberi pandangan dunia (world-view) uyang logis dan tegas kepada orang-orang Arab, tetapi juga menggeser budaya kuno Arab dengan menaruhnya dihadapan mereka-sebuah khazanah ilmiah dan kulturalnya-yang mempesona. Seerti yang diungkapkan oleh Madjud Fachry dalam pendahuluan bukunya A History og Islamic Philosophy.
Dengan spirit al Quran dan Hadits Nabi, para cendikiawan muslim generasi awal mengabdikan diri sepenuhnya kepada materi yang ada dalam kitab suci, menafsirkannya, mengambil (istinbath) hukum, dan moral yang termuat di dalamnya. Hasil kegiatan semacam ini timbullah ilmu qiraat, tafsir, fiqh, dan ilmu-ilmu dasar yang dibutuhkan masyarakat Arab pada saat itu.

C. Pemaparan Materi
Watt mencoba mengkritisi pernyataan rekannya Gibb, dalam buku Mohammedanism yang menyatkan bahwa sumbangan Arab yang mendasar dan menentukan bagi budaya kerajaan mereka adalah sumbangan intelektual. Watt menegaskan bahwa secara politis, dinasti Arab serta keutuhannya dibangun oleh keefektifan militer dan keahlian administratif Arab. Sedang kegemerlapan material kota Abasiyah, Baghdad, dan Fatimiyah, Mesir bukan berasal dari Arab, tetapi dari budaya material Irak dan Mesir. Apalagi ketika orang Arab menaklukkan banyak negeri, bahasa Arab menjadi wahan linguistik bagi kehidupan intelektual.
Mengenai sastra Arab, sebelum Islam yang hanya terbatas pada puisi dan pidato, dan dokumen-dokumen serta surat-surat bisnis dengan bahasa yang kasar, ringkas, dan kaku, juga sering tidak dipahami. Namun empat ratus tahun kemudian, kesusastraan Arab menyajikan buku, disamping puisi dan karya sastra
Terdapat juga karya-karya mengenai sejarah, geografi, teologi, filsafat, jurisprudensi, teori politik, kritik sastra dan subyek lainnya.
Selama periode Ummayah, unsur yang khas Islam dalam pembahasan hukuk itu diambil dari Quran saja. Sekitar tahun 650, Khalifah Usman sudah mulai membukukan teks. Namun perbedaan-perbedaan penafsiran masih mungkin terjadi. Bahkan banyak ditemukan juga penggunaan serita-cerita Israiliyat. Penelitian Asbabun Nuzul juga sudah dilakukan yang kemudian berkembang menjadi disiplin filologi yang menyangkut grammer, leksikografi, dan juga penelaahan puisi pra-Islam.
Pada awalnya penulisan Sejarah memfokuskan pada kejadian-kejadian yang mendukung satu pendirian politik. Namun setelah masa at Thabari uraian sejarah yang kritis telah mulai dijalankan.
Tradisi(hadits) yang dianggap shahih oleh ulama muslim merupakan bersambungan dengan Nabi. Kenyataan ini ditolak oleh ilmuwan barat dengan alasan bahwa sangat mudah orang mengada-adakan isnad.. Kebetratan kedua adalah bahwa dalam naskah-naskah Arab abad ke-7 dan ke-8 tidak diajukan hadits-hadits mengenai hal-hal yang dianggap memerlukan suatu rujukan. Pandangan Barat menyatakan bahwa penelitian harus secara formal tidak ada sampai setelah tahun 750 dan bahwa penelitian seperti itu tidak menjadi disiplin yang diakui sampai periode Abbasiyah. Maka mereka menyimpulkan bahwa hadits tidak bisa dianggap sebagai suatu aspek kesusastraan Arab di bawah pemerintahan Ummayah.
Intelektual awal di masa pemerintahan Khalifah Ummayah yang berpengaruh diantaranya adalah : Ibnu Abbas (Makkah), seorang penafsir al Quran yang menjadi leluhur bani Abbasiyah, Zaid bin Tsabit(Medinah), S’id bin al Musayyab, Urwah bin Zubair, Muhammad bin Syihab al Zuhri, seorang perintis penulisan sejarah Islam, ketiganya dari Medinah. Di kawasan Damaskus, sedikit sekali bermunculan intelektual kecuali tersebut seorang sahabat yang menonjol pengetahuannya tentang naskah al Quran, yaitu Abu Darda, kemudian Ibnu’Amir, seorang tokoh dalam bidang fiqih, dan dua orang lagi yang bernama Ma’khul dan Auza’i. Di Kuffah malah banyak terjadi kegiatan intelektual. Para tokohnya adalah ‘Asim, Hafs, Abdullah bin Mas’ud, Ibrahum an Nakha’i, Asy Syab’i, Hammad bin Abi Sulaiman. Dari kawasan Bashrah yaitu al Hasan, Qatada, Ayyub As Syakhtiyani. Mesir tidak banyak memainkan peranan dalam kehidupan intelektual masa Khalifah Ummayah.
Alasan pertama bahwa Arablah yang membentuk budaya intelektual adalah kepercayaan diri yang sangat besar pada orang-orang Arab. Faktornya adalah bahasa yang lebih diperkuat lagi oleh adanya ayat-ayat dalam al Quran mengenai “al Quran berbahasa Arab”. Keyakinan diri orang Arab ini ungkin adalah alasan utama bagi posisi dominan yang diambil dari Bahasa Araab dalam budaya Islam.
Mengenai puisi, di masa Ummayah banyak mencerminkan beberapa aspek kehidupan baru yang sekarang dijalani oleh Orang-orang Arab. Diantara penyair yang terkenal pada masa itu adalah al Akhtal, seorang Kristen dari suku Taghlib, kemudian Jarir dan Farazdaq, keduanya sering disebut bersama, ini dikarenakan selama empat puluh tahun mereka terlibat dalam berbalas puisi dengan saling mengecam untuk memamerkan kemampuan dan kecakapan penguasaan bahasa oleh keduanya.
Perubahan tema puisi kepada yang lebih halus, dikarenakan jaminan kehidupan mereka lebih terjamin, sehingga muncullah tema puisi cinta (ghazal). Di Madinah terkenal seorang yang bernama Umar bin Abi Rabi’ah.
Dalam perkembangan sastra, terdapat pemisahan antara prosa dan puisi dalam periode Ummayah. Prosa berkembang sebagai sarana keagamaan, sementara puisi diletakkan di atas nilai-nilai tradisional Arab.

D. Analisa
Tidak sedikit penulis Barat yang mengidentikkan “kebudayaan”dan “peradaban” Islam dengan “kebudayaan” dan “peradaban” Arab, termasuk juga penulis tulisan ini yang terjebak dalam pengkaburan istilah. Watt serta Gibb masih menggunakan istilah orang Arab untuk orang muslim dan budaya Arab untuk budaya muslim. Untuk masa klasik, pendapat ini dapat dibenarkan, meskipun sebenarnya antara “Arab” dengan “Islam” tetap bisa dibedakan. Ini dikarenakan pada masa itu pusat pemerintahan hanya satu dan untuk beberapa abad sangat kuat. Peran Bahsa Arab sangat dominan sekali. Semua wilayah kekuasaan Islam menggunakan bahsa yang satu, Bahasa Arab, sebagai bahsa administrasi. Semua ungkapan-ungkapan budaya juga diekspresiakn melalui bahasa Arab, meskipun ketika itu bangsa non Arab juga sudah mulai berpartisipasi dalam membina suatu “kebudayaan’ dan”peradaban” .
Satu kekayaan intelektual yang menjadi eksistensi Bangsa Arab sebelum Islam adalah kekayaan sastra baik puisi maupun prosa. Dan hanya dalam lapangan puisilah orang Arab dari masa perkembangan Islam menunjukkan mutu yang tinggi.
Puisi atau sya’ir merupakan sumber satu-satunya yang dianggap benar untuk menceritakan sejarah sebelum kebangkitan Islam dan masa permulaannya. Bahkan mempelajari puisi periode bani Umayah dan Jahiliyah sangant bermanfaat dalam memberikan sorotan penting terhadap sirah Nabi.
Dimasa pra Islam, seorang Penyair dapat menggerakkan bangsanya untuk beraksi melalui pidato-pidatonya yang berapi-api. Puisinya dihapal di luar kepala dan disebarkan dari mulut ke mulut merupakan cara publikasi yang sangat jitu. Seorang penyair juga menjadi pembentuk dan agen opini massa. Ia bukan saja sebagai ahli pidato dan pemberi nasihat, tetapi juga merupakan ahli sejarah dan intelektual. Bagi orang Arab, seni puisi adalah ukuran akal budi, tempat ilmu pengetahuan dan kehidupan ilmiah.
Puisi adalah salah satu seni yang paling indah yang dihargai dan dihormati Orang Arab pra-Islam. Mereka senang mendengarkan puisi-puisi para penyair dengan berkumpul mengelilingi mereka. Ada beberapa tempat yang merupakan pasar tempat berkumpulnya para penyair tersebut. Jika terpilih puisi yang terindah, maka puisi itu digantungkan di Ka’bah tidak jauh dari patung dewa-dewa sesembahan mereka
Namun dari puisi-puisi itu pula dapat diketahui bahwa sebelum datangnya Islam sebenarnya mereka tidak mempunyai sistem nilai religi yang dijadikan pedoman bagi kehidupan mereka.
Setelah datangnya Islam, dengan turunnya wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad : “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan Yang Menjadikan Kamu”(Quran:96:1), bangsa Arab sebenarnya telah mempunyai satu spirit intelektual yang menakjubkan. Melalui wahyu-wahyu yang diturunkan kepada mereka, perkembangan intelektual sudah menampilkan gairahnya yang besar.
Puisi Arab sebelum Islam banyak digunakan bangsa Arab dalam berbagai sarana termasuk sarana yang negatif seperti mencaci seseorang, menggambarkan kecabulan, dan erotis, serta menghujat dengan menggunakan bahasa ayang kasar. Maka setelah datangnya Islam, Puisi dijadikan sarana dakwah, memaparkan moralitas yang baik selain untuk penyebaran ilmu pengetahuan. Pengaruh bahasa al Quran pada bahasa Arab khususnya dalam puisi adalah memeperhalus dan memperkaya kosa kata yang mempunyai nilai moralitas yang tinggi.
Tradisi menghafal puisi-puisi pada akhirnya menjadi modal kaum muslim untuk menghafal al Qur’an dan mengembangkan tafsirnya. Seperti halnya tradisi menghapal bangsa Arab menjadi modal dalam periwayatan dan isnad hadits Nabi.
Dari tradisi kesusastraan ini banyak sekali karya-karya ilmiah yang menjadi bukti bahwa di masa awal Islam ini, intelektualitas sudah memberikan kontribusinya secara nyata bagi proses perkembangannya
Menurut Louis Massignon, al Quran merupakan ”leksikon unik, buku teks inti bagi segala ilmu, kunci ke arah Weltanschauung” bagi setiap muslim. Kaum mistik memegang peranan menentukan dalam perkembangan ilmu alQuran; metode-metode tafsir mereka itu mrnjangkau dari penafsiran kata yang sederhana sampai penjelasan simbolis dan alegoris, namun tanpa mengingkari nilai makna luar kata-kata Quran itu.
Al Quran merupakan karya prosa pertama yang bernilai tinggi yang tetap menjadi contoh sampai kini. Bahasanya berirama dan retoris, tetapi tidak puitis. Prosanya yang bersajak itulah yang menjadi dasar ukuran, yang dicita-citakan bersungguh-sungguh oleh setiap penulis konservatif.
Mushaf al Quran telah disusun secara keseluruhan selama pemerintahan Ustman bin Affan. Pada Abad kesepuluh dilakukan perbaikan yang bersifat gramatis dan otografis.
Sejak awal kerasulan, Nabi mencurahkan perhatian sangat besar pada penulisan Quran. Karena itu, Al Quran tetap terhindar dari kekelituan dan tahrif. Berbeda dengan hadits, penulisan Hadits sangat ditentang sejak awal. Akibatnya, banyak terdapat masalah yang berkaitan dengan hadits.
Semua karya yang ada tentang hadits baru dikumpulkan pada paruh terakhir abad ke-2H/8 H atau selama abad ke-3 H/9 . Berbagai catatan sejarah menunjukkan bahwa diseputar awal abad ke-2, sejumlah kecil muhadditsun telah mulai menulis hadits meskipun tidak dalam kompilasi yang runtut.
Hadits (tradisi) pada mulanya disebarkan dari mulut ke mulut, sehingga banyak bahan-bahan apokrif (yang diragukan kebenarannya) dimasukkan ke dalam apa yang mestinya tetap sebagai inti yang orisinil. Meski begitu, menjelang abad pertengahan kesembilan dikembangkan suatu usaha untuk menemukan kriteria bagi penyaring bahan-bahan apokrif ini dan disusun beberapa himpunan hadits shahih atau yang bersifat kanonok. Satu diantara yang paling baik adalah Shahih Bukhari.
Usaha penafsiran alQuran yang dipusatkan pada analisa teks-teks al Quran dan sunnah dilakukan oleh para ahli tafsir, sedang aspek-aspek yuridis kitab suci dilakukan oleh pata fuqaha. Kepada mareka juga diserahkan tugas membuat definisi doktriner, berhubung tidak adanya sebuah otoritas pengajaran yang terpusat dalam Islam.
Kriteria untuk mengupas masalah-masalah yuridis atau juga masalah-masalah doktriner oleh para fuqaha pertama sering sangat lughawi dan tekstual. Namun muncul segolongan cendikiawan yang membolehkan penggunaan analogi dan ra’iy (rasio) dalam masalah-masalah yang masih samar, khususnya ketika suatu dasar tekstual yang khusus bagi suatu masalh tidak ditrmukan dalam kitab Suci. Empat madzhab resmi pada akhirnya membentuk yurisprudensi Islam, yaituMadzhab Abu Hanafi, Madzhab Syafi’i, Madzhab Malik bin Anas, dan Madzhab Ahmad bin Hambal.
Menjelang abad ketujuh, pembiocataan teologi sudah berkisar pada masalah keadilan Tuhan dan tanggung jawab manusia. Walaupun para pemikir hal ini menopang pendapatnya pada denagn menggunakan ayat ayat al Quran, namun kecenderungan mereka umumnya adalah mengajukan argumen-argumen etis dan rasional yang ketat.
Usaha yang tepat dari diskusi semacam ini tentu saja memerlukan suatu tingkat pengalaman yang tinggi, yang agaknya sulit diraih, kalau tidak mustahil, sebelum mengenal filsafat dan logika Yunani. Karena itu teologi skolastik memberi dorongan kepada orang-orang Islam untuk menuntut pelajaran filsafat Yunani, seperti yang diberikan kepada orang-orang kristen di Mesir dan Siria pada beberapa abad yang silam.
Tidak banyak kamajuan yang diperoleh dalam usaha ini selama masa Ummayah(661-750), karena Khalifah-khalifah Ummayah khususnya selama beberapa dasawarsa pertama, lebih mengutamakan konsolidasi kekuatan politik mereka dan pemecahan beberapa persoalan ekonomi dan pemerintahan yang timbul dalam mengendalikan kerajaan yang besar itu.

E. Penutup
Di awali perkembangan puisi dan karya sastra yang lain, Kaum muslim memulai eksistensinya di dunia intelektual. Prestasi kaum muslim ini tidak terlepas dari keberadaan al Quran yang menjadi sumber inspirasi ilmu dan aspek-aspek kehidupan yang sarat dengan nilai-nilai universal.perkembangan berikutnya, pengembangan atas teks suci itu menjadi berbagai disiplin ilmu pengetahuan dari mulai doktrin, hukum, bahasa, sejarah, dan ilmu-ilmu humaniora dan metode kritik.
Perkataan Nabi yang juga menjadi sumber kedua setelah al Quran memunculkan tradisi ilmiah yang berbasis pada kritik teks dan subyek pelaku persambungan periwayatan hadits tersebut.
Selain teologi, filsafat sudah mulai dilirik untuk dikaji walaupun ridak semaksimal pada periode berikutnya namun sudah menanamkan saham akan perlunya pengembangan potensi berfikir dan memanfaatkan realitas hukum alam, yang sebenarnya sudah termotifasi dalam kitab suci umat Islam itu.
Selanjutnya, periode ini menjadi awal berkembanganya ilmu dan peran intelektual ummat islam di arena dunia, @@@

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s